5 Gaya Hidup Masyarakat Modern yang Perlu Diperhatikan Pebisnis

14 Maret 2026 | Produk & Fitur
5 Gaya Hidup Masyarakat Modern yang Perlu Diperhatikan Pebisnis

Saat ini, gaya hidup modern masyarakat tak lepas dari pengaruh kemajuan teknologi. Tiap bangun pagi langsung membuka handphone untuk sekadar mengecek media sosial. Begitupun, sekadar membeli makanan pun orang terbiasa untuk order lewat aplikasi ojek online karena dinilai cepat dan praktis.

Kebiasaan seperti ini mengubah pola hidup masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya. Mereka ingin proses yang mudah, pembayaran yang praktis, dan pelayanan yang cepat. Jika sebuah bisnis tidak mengikuti kebiasaan tersebut, pelanggan bisa merasa kurang nyaman dan memilih tempat lain.

Karena itu, penting bagi tiap bisnis untuk memahami seperti apa gaya hidup modern masyarakat saat ini. Dengan memahami informasi ini, bisnis bisa menyesuaikan strategi yang tepat dalam pengembangan bisnis. 

Simak 5 gaya hidup masyarakat modern, terutama lifestyle kota besar yang perlu diperhatikan agar bisnis terus berkembang.

1. Gaya hidup serba cepat (instant & practical living)

Salah satu ciri utama gaya hidup modern adalah kebiasaan masyarakat yang ingin mendapatkan segala sesuatu dengan cepat dan praktis. Kebiasaan ini ditunjukkan saat banyak user GoJek dan Grab memesan makanan lewat aplikasi, di mana mereka tak perlu repot keluar rumah dan menghabiskan waktu untuk pergi langsung ke restoran yang dituju.

Selain itu, masyarakat sudah terbiasa naik transportasi online yang pemesannya sangat praktis cukup lewat smartphone dan driver sudah tiba di lokasi dalam beberapa menit saja.

Karena sudah terbiasa dengan hidup yang serba praktis, orang menjadi kurang sabar terhadap proses pembelian yang berbelit dan memakan waktu. Misalnya, saat belanja online mereka harus membuat akun terlebih dahulu, mengisi data diri yang banyak, mengirim bukti transfer pembelian, atau menunggu balasan admin yang terlalu lama.

Berbagai kondisi seperti ini bisa membuat pelanggan membatalkan transaksi. Itulah sebabnya bisnis perlu membuat alur pembelian yang sederhana, respons yang cepat, dan sistem pembayaran yang mudah bagi pelanggan.

2. Digital & cashless lifestyle

Perubahan gaya hidup modern bisa dilihat dari cara masyarakat mengelola uang dalam kehidupan sehari-harinya. Karena uang sudah tersimpan dalam bentuk digital, mereka terbiasa melakukan pembayaran langsung dari smartphone tanpa perlu menarik uang cash terlebih dahulu.

Misalnya, saat seseorang menerima gaji melalui transfer bank, mereka langsung menggunakan mobile banking atau ewallet untuk membayar kebutuhan seperti makan, transportasi, dan belanja online

Kebiasaan ini memengaruhi keputusan saat berbelanja. Jika seseorang terbiasa membayar menggunakan e-wallet lalu datang ke toko yang hanya menerima uang tunai, ia harus mencari ATM terlebih dahulu atau bahkan akan memilih tidak jadi membeli.

Oleh karena itu, menyediakan metode pembayaran digital membantu bisnis menyesuaikan diri dengan urban lifestyle masyarakat yang sudah terbiasa cashless dan berbasis transaksi digital.

3. Experienceoriented lifestyle

Konsumen tidak lagi membeli sesuatu hanya karena produknya bagus atau harganya murah. Mereka juga menilai bagaimana pengalaman yang dirasakan saat berinteraksi dengan sebuah brand. Pengalaman ini bisa dimulai sejak pertama kali melihat iklannya ataupun saat bertanya kepada penjual, hingga ketika produk digunakan.

Contohnya saat datang ke kafe, pelanggan menilai berbagai hal, seperti suasana ruangan, cara pegawai menyapa, sampai seberapa nyaman tempat itu untuk WFC. Hal yang sama terjadi saat belanja online karena cara admin membalas chat, penjelasan produk yang lengkap, hingga kondisi packaging saat barang sampai akan memengaruhi kesan pelanggan. 

Ketika pengalaman terasa menyenangkan, pelanggan biasanya memberi ulasan positif atau menceritakannya ke teman, bahkan banyak yang membagikan pengalamannya di media sosial sehingga secara tidak langsung membantu membangun citra brand.

Baca Juga: Menggali Potensi Wisatawan Domestik & Mancanegara untuk Pariwisata Indonesia

4. Health & sustainability awareness

Beberapa tahun terakhir, semakin banyak konsumen yang memperhatikan aspek kesehatan dan keberlanjutan sebelum membeli suatu produk. Mereka mulai mengenal beberapa istilah seperti “BPA free”, “tanpa pengawet”, “organik”, atau “low sugar” karena ingin memastikan produk tersebut aman untuk tubuh. 

Selain itu, muncul juga perhatian terhadap isu sustainability seperti penggunaan bahan daur ulang, kemasan ramah lingkungan, pengurangan plastik sekali pakai, hingga proses produksi yang tidak merusak lingkungan.

Perubahan ini menunjukkan bahwa keputusan pembelian kini dipengaruhi oleh kesadaran akan kesehatan pribadi dan dampak jangka panjang terhadap lingkungan. 

Konsumen ingin tahu apakah brand menerapkan praktik seperti eco-friendly packaging, sustainable sourcing, atau produksi yang bertanggung jawab secara sosial. Jadi, ketika bisnis mampu menjelaskan nilai tersebut secara jelas dan transparan, kepercayaan konsumen akan lebih mudah terbentuk pada tiap produk yang ditawarkan.

5. Personalization & datadriven expectation

Sekarang coba perhatikan saat membuka marketplace, YouTube, atau Instagram. Produk, iklan, dan konten yang muncul sering kali sesuai dengan apa yang baru saja dicari atau diklik sebelumnya.

Hal tersebut terjadi karena sistem menggunakan data seperti search history, click behavior, dan riwayat pembelian untuk memberikan rekomendasi yang lebih relevan, proses ini disebut sebagai datadriven marketing.

Jadi, konsumen terbiasa menerima informasi yang sesuai dengan minat mereka. Misalnya, sebelumnya mereka sering mencari sepatu olahraga, mereka berharap melihat promo sepatu olahraga juga, bukan promosi produk yang tidak berkaitan.

Harapan inilah yang disebut sebagai personalization, yaitu ketika bisnis menggunakan data seperti riwayat pembelian, produk yang sering dilihat, atau kategori favorit untuk menyusun penawaran yang lebih relevan sehingga pelanggan merasa kebutuhan mereka benar-benar dipahami.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa perubahan gaya hidup masyarakat berdampak pada cara mereka berbelanja, membayar, dan berinteraksi dengan brand. Ketika bisnis memahami perubahan ini, strategi bisnis yang disusun pun bisa lebih relevan dengan kebutuhan konsumen saat ini.

Setelah memahami berbagai perubahan tersebut, langkah berikutnya adalah mulai menyesuaikan sistem bisnis agar benar-benar mengikuti kebiasaan pelanggan. Salah satunya adalah kemudahan dalam proses pembayaran karena sekarang banyak orang sudah terbiasa bertransaksi secara digital.

Paylabs membantu bisnis menyediakan berbagai metode pembayaran, seperti QRIS, Virtual Account, dan E-Wallet sehingga proses transaksi terasa lebih cepat dan praktis sesuai dengan gaya hidup masyarakat modern.

Bagikan
Link sudah dicopy