Apa Itu STP? Pengertian Segmentation, Targeting, dan Positioning dalam Marketing

17 Maret 2026 | Tips & Edukasi
Apa Itu STP? Pengertian Segmentation, Targeting, dan Positioning dalam Marketing

Banyak pebisnis merasa telah menerapkan berbagai strategi untuk menjual produknya, namun belum juga mengalami peningkatan jualan. Padahal, mereka juga sudah membuat produk yang bagus, menentukan harga yang cocok, lalu mempromosikannya lewat media sosial secara rutin. 

Di tengah situasi yang stagnan tersebut, kendala utamanya sering kali terletak pada penentuan target pasar yang masih bias. Produk ditawarkan ke terlalu banyak orang tanpa gambaran siapa yang benar-benar membutuhkan. Akibatnya, promosi produk terasa “flat” dan calon pembeli tidak merasa bahwa produk tersebut dibuat khusus untuk mereka.

Karena itu, penting untuk memahami apa itu STP dalam marketing agar bisnis tahu harus menjual ke siapa dan ingin dikenal sebagai apa. Untuk mengetahui lebih lanjut  bagaimana penerapan STP dan manfaatnya bagi bisnis, simak informasi selengkapnya melalui ulasan berikut ini.

Apa itu STP dalam marketing?

STP adalah strategi marketing yang terdiri dari tiga tahap utama, yaitu S (segmentation); T (targeting); dan P (positioning). Ketiganya dijalankan secara berurutan agar bisnis memiliki arah yang jelas sebelum mulai menjual produk.

Dengan menerapkan STP, bisnis tidak langsung fokus pada promosi atau iklan. Perusahaan akan memastikan terlebih dahulu siapa kelompok pasar yang ingin dituju, mana yang paling potensial, dan bagaimana produk ingin dikenal oleh kelompok tersebut. Dengan cara ini, strategi marketing menjadi lebih terstruktur dan tidak dilakukan secara asal.

Segmentasi

Segmentation atau segmentasi adalah langkah pertama dalam STP. Di tahap ini, bisnis mulai membagi calon pembeli ke dalam beberapa kelompok kecil. Pembagian ini dilakukan karena tidak semua orang memiliki kebutuhan yang sama.

Coba bayangkan Anda menjual produk minuman kopi. Tidak semua orang suka rasa yang sama, ada yang suka kopi manis, ada yang suka pahit, ada juga yang lebih memilih kopi susu. Dengan melakukan segmenting, bisnis bisa mengelompokkan calon pembeli berdasarkan kesukaan, usia, atau kebiasaan mereka agar lebih mudah menentukan cara menjualnya.

Sebelum masuk ke jenis-jenis segmentasi, penting untuk memahami bahwa pembagian ini didasarkan pada karakter tertentu. Setiap kriteria membantu bisnis mengenali pola yang muncul dalam pasar. 

Berikut ini adalah kriteria segmentasi dalam STP marketing.

1. Geografi

Segmentasi geografi membagi market berdasarkan wilayah seperti kota, provinsi, atau negara. Contohnya bisnis minuman hangat akan lebih agresif berpromosi di daerah pegunungan yang dingin. 

2. Demografi

Segmentasi demografi didasarkan pada usia, jenis kelamin, pendapatan, atau pekerjaan. Contohnya, produk skincare antiaging biasanya menyasar usia 30 tahun ke atas. 

3. Psikografis

Segmentasi psikografis melihat gaya hidup, minat, dan nilai yang dianut konsumen. Misalnya, brand perlengkapan gym menyasar orang yang peduli kesehatan dan aktif berolahraga. 

4. Perilaku

Segmentasi perilaku didasarkan pada kebiasaan membeli dan penggunaan produk. Sebagai contoh, marketplace sering memberikan promo berbeda untuk pengguna baru dan pelanggan lama. 

Targeting

Setelah proses segmentasi selesai dan pasar sudah dibagi ke beberapa kelompok, perusahaan tidak langsung menyasar semuanya. Di tahap ini, bisnis menentukan kelompok mana yang paling sesuai dengan produk, kemampuan, dan tujuan penjualannya.

Tujuan targeting adalah agar strategi pemasaran lebih fokus dan tidak melebar ke mana-mana. Ketika target sudah jelas, tim marketing bisa menyusun strategi promosi yang lebih tepat, menentukan harga yang sesuai, dan memilih media promosi yang cocok dengan produk. 

Fokus ini membantu bisnis bekerja lebih efisien karena tenaga, waktu, dan biaya diarahkan ke kelompok yang benar-benar potensial. Sebelum menentukan target, ada beberapa hal penting yang perlu dianalisis di antaranya:

1. Ukuran

Pertama, perhatikan ukuran segmentasinya, artinya, lihat dulu apakah jumlah orang di kelompok tersebut cukup banyak. Jika jumlahnya terlalu sedikit, potensi penjualannya juga terbatas dan bisnis akan sulit berkembang.

2. Perbedaan

Kedua, pastikan segmen tersebut memang berbeda dari kelompok lain. Perbedaan ini bisa dari usia, kebutuhan, atau kebiasaan membeli. Apabila tidak ada perbedaan yang jelas, bisnis akan kesulitan membuat pesan promosi yang spesifik.

3. Jangkauan

Ketiga, pikirkan apakah segmen tersebut mudah dijangkau. Misalnya jika targetnya anak muda, maka promosi lewat media sosial akan lebih efektif. Hal ini karena target yang  sulit dijangkau membuat  biaya dan tenaga yang dikeluarkan bisa lebih besar.

4. Profitabilitas

Keempat, hitung apakah segmen tersebut bisa memberikan keuntungan. Lihat apakah mereka memiliki daya beli yang sesuai dengan harga produk. Jadi, bisnis perlu memastikan bahwa biaya promosi dan operasional bisa tertutup dari hasil penjualan.

5. Manfaat

Terakhir, pastikan segmen tersebut benar-benar membutuhkan produk Anda. Jika kebutuhan mereka kuat, kemungkinan membeli akan lebih tinggi. Jika kebutuhan lemah, promosi sekuat dan sekreatif apa pun biasanya tidak akan menghasilkan penjualan maksimal.

Setelah memahami lima hal ini, barulah bisnis bisa menentukan strategi pendekatan pasar yang paling sesuai. Berikut jenis-jenis strategi targeting yang umum digunakan.

1. Undifferentiated marketing

Dalam undifferentiated marketing, bisnis memilih untuk menawarkan produknya ke semua orang dengan cara promosi yang sama. Perusahaan tidak membagi pasar menjadi kelompok kecil karena produk tersebut dianggap bisa digunakan oleh hampir semua kalangan. Contohnya seperti air minum kemasan yang dipromosikan untuk seluruh masyarakat tanpa membedakan usia atau pekerjaan, sehingga pesan iklannya dibuat sederhana dan mudah diterima banyak orang.

2. Differentiated marketing

Pada differentiated marketing, bisnis tetap menyasar pasar yang luas, dengan cara pendekatannya berbeda untuk setiap kelompok. Artinya, satu perusahaan bisa memiliki beberapa versi promosi sesuai dengan karakter konsumennya. Misalnya sebuah brand pakaian membuat koleksi casual outfit untuk remaja, lalu membuat koleksi lain untuk pekerja kantoran dengan tampilan lebih formal, sehingga masing-masing kelompok merasa produk tersebut cocok untuk mereka.

3. Concentrated marketing

Concentrated marketing membuat bisnis fokus pada satu kelompok tertentu saja. Perusahaan sengaja tidak menyasar semua orang karena ingin membangun kekuatan di satu pasar yang lebih spesifik. Contohnya brand perlengkapan bayi yang hanya menyasar orang tua baru, sehingga seluruh promosi dan pesan yang dibuat benar-benar berbicara tentang kebutuhan bayi dan keluarga muda.

4. Micromarketing

Micromarketing menyasar kelompok yang sangat kecil, bahkan sampai individu. Strategi ini biasanya menggunakan data seperti kebiasaan belanja atau produk yang sering dilihat secara online. Misalnya ketika seseorang mencari sepatu di marketplace lalu beberapa jam kemudian muncul iklan sepatu yang mirip di media sosial, promosi tersebut dibuat khusus berdasarkan minat orang tersebut agar terasa lebih personal.

Positioning

Two asian businesswoman testing and researching cosmetic product or cream in bottle in office, two business woman creative with planning project design package of skincare, development and business.

Positioning adalah tahap saat bisnis menentukan produknya ingin dikenal sebagai apa di mata target pasarnya. Pada tahap ini, perusahaan membangun kesan atau gambaran tertentu agar produk memiliki ciri yang jelas. Jadi ketika konsumen mendengar nama brand tersebut, mereka langsung teringat pada satu hal yang spesifik, misalnya harga terjangkau, kualitas premium, atau layanan yang cepat.

Tujuan positioning adalah agar produk mudah dibedakan dari pesaing dan lebih mudah diingat. Jadi, ketika persepsi sudah terbentuk dengan kuat, peluang konsumen untuk memilih produk tersebut akan semakin besar.

Berikut beberapa cara yang bisa digunakan untuk membangun positioning yang tepat.

1. Menonjolkan keunggulan produk

Cara pertama adalah menekankan keunggulan utama yang dimiliki produk. Keunggulan ini bisa berupa fitur, kualitas, teknologi, atau bahan yang digunakan. Contohnya sebuah smartphone yang selalu dikenal karena kualitas kameranya, sehingga setiap promosi selalu menampilkan hasil foto yang tajam dan jernih agar konsumen langsung mengingat kelebihan tersebut.

2. Mengutamakan manfaat untuk pelanggan

Cara kedua adalah fokus pada manfaat yang benar-benar dirasakan oleh pengguna. Misalnya aplikasi pencatatan keuangan yang diposisikan sebagai alat bantu agar pengguna bisa mengatur pengeluaran dengan lebih rapi dan tidak boros setiap bulan.

3. Membangun identitas brand yang konsisten

Cara ketiga adalah membangun identitas brand yang kuat dan konsisten. Identitas ini bisa terlihat dari warna logo, gaya komunikasi, desain packaging, hingga pesan yang selalu disampaikan di tiap promosi. Ketika semua elemen ini konsisten, konsumen akan lebih mudah mengenali dan mengingat brand tersebut di tengah banyaknya pilihan di pasar.

Manfaat STP marketing

Berikut beberapa manfaat strategis yang bisa dirasakan ketika STP diterapkan secara tepat.

1. Perencanaan anggaran marketing lebih detail 

Penerapan STP membuat anggaran marketing dapat disusun secara lebih rinci sesuai target yang dipilih. Biaya seperti iklan digital, produksi konten, kerja sama influencer, program diskon, hingga riset pasar dihitung berdasarkan segmen yang benar-benar dibidik. Jika targetnya karyawan usia 25–35 tahun di kota besar, anggaran bisa diarahkan ke Instagram Ads, LinkedIn Ads, serta kampanye bertema profesional agar pengeluaran lebih fokus dan tidak menyebar ke channel yang kurang relevan.

2. Meningkatkan keyakinan calon pembeli

Saat promosi sesuai dengan kebutuhan calon pembeli, mereka akan merasa produk itu memang cocok untuk mereka. Contohnya skincare khusus kulit berjerawat yang menjelaskan cara mengatasi jerawat remaja dengan bahan yang aman. Ketika orang merasa dipahami terkait kebutuhannya, mereka lebih yakin untuk membeli produk tersebut.

3. Mendukung pertumbuhan bisnis lebih terarah

Penerapan STP membantu bisnis tumbuh secara lebih terarah karena setiap keputusan didasarkan pada segmen yang sudah dianalisis sebelumnya. Pertumbuhan ini bisa berupa perluasan pasar ke wilayah baru, penambahan variasi produk, atau pembukaan cabang di lokasi yang memiliki karakter konsumen serupa. 

Misalnya ketika data menunjukkan bahwa segmen karyawan kantoran di satu kota memberikan penjualan paling stabil, perusahaan dapat membuka cabang di kota lain dengan profil pasar yang mirip atau menghadirkan produk tambahan yang masih relevan untuk kebutuhan segmen tersebut.

Dari pembahasan di atas, bisa disimpulkan bahwa memahami bahwa STP membantu bisnis tidak asal menjual produk ke semua orang. Dimulai dari membagi pasar melalui segmenting, memilih target yang paling sesuai, lalu membangun positioning yang jelas, setiap langkah membuat strategi pemasaran lebih terarah. 

Setelah strategi pemasaran terancang dengan baik, pengalaman pelanggan juga perlu didukung oleh sistem transaksi yang lancar dan aman. Di sinilah Paylabs bisa menjadi partner terbaik untuk mendukung strategi STP bisnis Anda.

Paylabs menghadirkan fitur Payment Link yang praktis serta channel pembayaran lengkap, seperti QRIS, virtual account, dan e-wallet agar pelanggan dari berbagai segmen bisa bertransaksi dengan mudah. Saatnya perkuat positioning bisnis Anda sebagai brand modern, efisien, dan aman bersama solusi pembayaran terpercaya dari Paylabs!

Bagikan
Link sudah dicopy